Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Desa Tangkit berdiri teguh menjaga jati dirinya. Di desa yang kaya akan keberagaman suku dan budaya ini, semangat untuk melestarikan adat Melayu Jambi terus dijaga dan diwariskan. Salah satu wujud nyatanya adalah penyelenggaraan Pelatihan Adat bagi Kepala Desa, Perangkat Desa, BPD, Pengurus Lembaga Adat, dan Pegawai Syara’.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi sebuah ikhtiar bersama untuk menguatkan nilai-nilai adat sebagai perekat sosial dan pedoman hidup bermasyarakat.
Para peserta diajak memahami kembali makna adat yang berakar pada falsafah Melayu: adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah.
Melalui dialog, praktik, dan pembelajaran langsung, mereka menggali kembali tata cara adat, peran lembaga adat, hingga nilai-nilai etika yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat di Jambi.
Pelatihan ini juga menjadi ruang silaturahmi antar-suku di Desa Tangkit—Melayu, Jawa, Minang, Batak, Bugis, dan lainnya—untuk saling mengenal dan menghargai.
Dari sinilah tumbuh kesadaran bersama, bahwa adat bukanlah sekat, tetapi jembatan yang menyatukan berbagai latar belakang dalam satu semangat: membangun desa yang rukun, berbudaya, dan bermartabat.
Dengan semangat gotong royong dan rasa cinta terhadap tanah kelahiran, pelatihan adat ini diharapkan melahirkan generasi pemimpin desa yang paham akar budayanya, bijak dalam mengambil keputusan, serta mampu menuntun masyarakat dengan nilai-nilai luhur Melayu Jambi.
Karena melestarikan adat bukan sekadar menjaga tradisi masa lalu, tetapi juga menanam nilai untuk masa depan—agar Desa Tangkit terus tumbuh sebagai desa beradat, beriman, dan berkepribadian luhur di tengah keberagaman yang indah.
Ditulis Oleh : Hasrul Amri


Tidak ada komentar:
Posting Komentar