Jumat, 17 Oktober 2025

Pembukaan Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) Tangkit Emas Desa Tangkit Standar 2 (S2)

 

Jum'at, 17 Oktober 2025

Semangat untuk tetap berdaya dan bermanfaat tidak mengenal batas usia. Hal ini tampak jelas dalam kegiatan Pembukaan Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) Tangkit Emas Desa Tangkit Standar 2 (S2) yang berlangsung penuh semangat dan kekeluargaan. Kegiatan ini menjadi langkah nyata Pemerintah Desa Tangkit bersama masyarakat dalam mewujudkan desa ramah lansia yang mendukung produktivitas warga lanjut usia agar tetap sehat, aktif, dan berdaya guna di tengah kehidupan sosial.

Acara pembukaan dihadiri oleh peserta didik lansia, tenaga pendidik, Lembaga Adat Desa (LAD), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta Tenaga Pendamping Profesional Kecamatan Sungai Gelam. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kolaborasi lintas elemen dalam mendukung kesejahteraan lansia sebagai bagian penting dari pembangunan manusia di tingkat desa.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Tangkit, Supadi, S.Pd, menyampaikan apresiasi dan motivasi kepada seluruh peserta didik lansia yang hadir dengan semangat belajar tinggi.

“Walaupun usia lanjut, tetapi tetap berdayaguna serta aktif di masyarakat,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Pernyataan ini menggambarkan tekad Pemerintah Desa Tangkit untuk terus memberdayakan masyarakat lanjut usia agar tidak merasa tersisih, melainkan tetap memiliki peran dan kontribusi nyata di lingkungan sekitar.

Sementara itu, Camat Sungai Gelam, Musliadi, S.Kom., M.E, memberikan sambutan yang menginspirasi dan menguatkan makna kegiatan ini.

“Di usia senja atau lanjut bukan berarti tidak produktif, tetapi tetap mengembangkan hobi sesuai kemampuan serta berjiwa sosial di masyarakat,” ungkapnya.
Beliau menegaskan bahwa lansia harus terus beraktivitas positif sesuai potensi yang dimiliki, baik melalui kegiatan sosial, keagamaan, maupun keterampilan sederhana yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan pita oleh Camat Sungai Gelam sebagai tanda resmi dibukanya Sekolah Lansia Tangguh Tangkit Emas Desa Tangkit Standar 2 (S2). Pada kesempatan yang sama, beliau juga mengukuhkan tenaga pendidik Selantang yang akan berperan penting dalam membimbing, mengarahkan, serta memfasilitasi kegiatan belajar bagi para peserta lansia.

Suasana pembukaan berlangsung hangat dan penuh haru. Para peserta lansia tampak antusias mengikuti rangkaian acara, sementara para tenaga pendidik dan perangkat desa memberikan dukungan moril agar kegiatan ini dapat berjalan berkelanjutan. Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) ini diharapkan menjadi wadah bagi para lansia untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan pengetahuan, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta memperkuat tali silaturahmi antarwarga.

Program Selantang Tangkit Emas juga menjadi bentuk nyata penerapan prinsip pembangunan inklusif berbasis desa, di mana seluruh kelompok masyarakat — termasuk lansia — mendapat ruang yang setara untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan. Melalui kegiatan ini, diharapkan para lansia tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku aktif dalam menjaga nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual di tengah masyarakat.

Dengan semangat “tumbuh bersama di segala usia”, pembukaan Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) Tangkit Emas Desa Tangkit Standar 2 (S2) menjadi simbol komitmen bersama antara pemerintah desa, kecamatan, lembaga desa, dan masyarakat untuk menciptakan kehidupan desa yang sejahtera, berkeadilan, dan berkelanjutan.


Ditulis Oleh: Hasrul Amri

Selasa, 14 Oktober 2025

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengurus TP PKK se-Kecamatan Sungai Gelam

14 Oktober 2025

 Dalam rangka memperkuat kapasitas kelembagaan perempuan serta meningkatkan peran strategis keluarga dalam pembangunan desa, Kecamatan Sungai Gelam menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengurus Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) yang diikuti oleh 102 peserta dari 15 desa se-Kecamatan Sungai Gelam ini menjadi langkah nyata dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing, khususnya bagi kaum perempuan yang selama ini berperan aktif dalam penguatan ketahanan keluarga dan pembangunan masyarakat di tingkat akar rumput.

Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai pengelolaan administrasi PKK, pendataan dan penguatan dasawisma, serta implementasi 10 Program Pokok PKK. Selain itu, peserta juga mendapatkan pembinaan dalam bidang pengelolaan keuangan keluarga, yang diharapkan mampu menjadi fondasi dalam menciptakan keluarga yang mandiri, sejahtera, dan tangguh secara ekonomi.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas dan efektivitas para pengurus TP PKK dalam menjalankan peran dan fungsinya. Administrasi yang tertib, data dasawisma yang akurat, serta pemahaman mendalam terhadap 10 program pokok PKK seperti penghayatan dan pengamalan Pancasila, gotong royong, pangan, sandang, perumahan dan tata laksana rumah tangga, pendidikan dan keterampilan, kesehatan, pengembangan kehidupan berkoperasi, pelestarian lingkungan hidup, dan perencanaan sehat menjadi aspek utama yang digarisbawahi. Dengan memahami kesepuluh program tersebut, para pengurus diharapkan mampu menyusun rencana kerja yang lebih terarah dan berdampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain pembekalan teoritis, pelatihan ini juga menekankan pendekatan praktis yang relevan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan. Misalnya, dalam sesi tentang pengelolaan keuangan keluarga, peserta dilatih untuk mengidentifikasi sumber pendapatan rumah tangga, menyusun perencanaan keuangan yang bijak, serta mengembangkan potensi ekonomi produktif melalui kegiatan usaha kecil dan rumah tangga. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat stabilitas ekonomi keluarga, tetapi juga mendorong munculnya wirausaha perempuan desa yang inovatif dan mandiri.

Ketua Forum Kepala Desa Kecamatan Sungai Gelam, M. Aman, dalam sambutannya menegaskan bahwa PKK memiliki posisi yang sangat penting dalam mendukung pembangunan desa dan keluarga. “PKK menjadi bagian penting dalam pembangunan Desa dan Keluarga,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari aspek fisik atau infrastruktur semata, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat, terutama perempuan dan keluarga, berperan aktif dalam menciptakan perubahan sosial yang positif. Menurutnya, sinergi antara pemerintah desa, lembaga kemasyarakatan, dan TP PKK merupakan kunci utama dalam membangun desa yang maju, inklusif, dan berdaya saing.

Kegiatan ini mendapat perhatian dan dukungan langsung dari Ketua TP PKK Kabupaten Muaro Jambi, Ibu Ririn Novianty, S.E., yang turut hadir memberikan arahan dan motivasi kepada seluruh peserta. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan semacam ini sangat relevan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat peran perempuan di sektor pembangunan. “Kami mendukung penuh kegiatan ini dan berharap agar seluruh TP PKK di tingkat desa dapat aktif dan berdaya. PKK harus menjadi motor penggerak yang mampu menumbuhkan semangat kebersamaan dan inovasi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ririn menekankan bahwa peran PKK tidak hanya terbatas pada kegiatan sosial, tetapi juga mencakup aspek ekonomi dan pendidikan keluarga. Ia mendorong agar setiap kader PKK mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing, baik dalam mendukung pola hidup sehat, pendidikan anak, maupun pemberdayaan ekonomi lokal.

Turut hadir pula Camat Sungai Gelam, Musliadi, S.Kom., M.E., seluruh kepala desa, serta panitia penyelenggara. Dalam arahannya, Camat Musliadi menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun masyarakat yang sejahtera. Menurutnya, peran PKK sangat strategis karena langsung bersentuhan dengan kehidupan keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat. 

“Jika keluarga kuat, maka desa pun akan kuat. Dan jika desa kuat, maka daerah juga akan maju,” Musliadi, S.Kom., M.E.

Pelatihan ini diharapkan menjadi momentum penting bagi seluruh pengurus TP PKK se-Kecamatan Sungai Gelam untuk memperbarui semangat dan meningkatkan kapasitasnya dalam menjalankan tugas-tugas pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan ilmu dan keterampilan baru, tetapi juga memperluas jejaring kerja sama antardesa untuk saling berbagi praktik baik (best practices) dalam pengelolaan organisasi dan pelaksanaan program.

Para Kades dan Peserta Pelatihan

Dengan terlaksananya pelatihan ini, diharapkan TP PKK dapat semakin optimal sebagai mitra strategis pemerintah desa dalam mewujudkan keluarga yang sejahtera, mandiri, dan berdaya. Peningkatan kapasitas ini menjadi pondasi penting untuk memperkuat kualitas pembangunan manusia di tingkat lokal, menuju terwujudnya masyarakat Sungai Gelam yang produktif, berkarakter, dan sejahtera secara berkelanjutan.


Ditulis Oleh: Hasrul Amri

Kamis, 09 Oktober 2025

Pelatihan Kader Pembangunan Manusia (KPM) Desa Talang Belido: Menuju Desa Zero Stunting

Jum’at, 10 Oktober 2025 menjadi momentum penting bagi Desa Talang Belido, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi. Pada saat itu, pemerintah desa bersama para pendamping desa dan stakeholder terkait menggelar kegiatan Pelatihan Kader Pembangunan Manusia (KPM) yang berfokus pada peningkatan kapasitas dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting di tingkat desa. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme, menghadirkan narasumber berpengalaman yakni Heru Novian, S.T dan Dedi Antoni, S.IP, yang masing-masing menyampaikan materi penting mengenai peran strategis kader dalam mendukung pembangunan manusia berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Talang Belido, Fadli, S.E., menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari komitmen serius pemerintah desa untuk menurunkan angka stunting hingga mencapai target "Talang Belido Zero Stunting." Menurutnya, upaya ini harus dimulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat desa, khususnya para kader yang menjadi ujung tombak dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gizi, pola asuh, serta sanitasi lingkungan.

Tujuan pelatihan ini agar Talang Belido Zero Stunting. Kami ingin seluruh kader memiliki pengetahuan yang memadai, mampu mengidentifikasi permasalahan di lapangan, serta memberikan solusi yang tepat kepada masyarakat,” ujar Fadli dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan para peserta pelatihan.

Pelatihan ini diikuti oleh para Kader Pembangunan Manusia (KPM), kader Posyandu, perwakilan BPD, perangkat desa, dan unsur PKK. Mereka dibekali pemahaman tentang konsep stunting, penyebab utamanya, serta strategi intervensi gizi spesifik dan sensitif. Materi yang disampaikan narasumber menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan stunting, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, hingga pembangunan infrastruktur dasar.

Narasumber pertama, Heru Novian, S.T, menjelaskan bahwa peran KPM tidak hanya terbatas pada pendataan dan pemantauan gizi balita, tetapi juga sebagai agen perubahan perilaku masyarakat. “KPM harus mampu menjadi jembatan antara pemerintah dan warga desa, memastikan program intervensi benar-benar sampai kepada sasaran, terutama keluarga dengan balita dan ibu hamil,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program pencegahan stunting bergantung pada konsistensi dan keaktifan kader dalam melakukan pendampingan serta penyuluhan di lapangan.

Sementara itu, Dedi Antoni, S.IP memaparkan tentang pentingnya sinergi kelembagaan desa dalam mendukung upaya pencegahan stunting. Ia mengingatkan bahwa isu stunting bukan hanya masalah gizi, melainkan juga terkait dengan pola hidup bersih, sanitasi, serta ketersediaan air bersih dan pangan bergizi. “KPM harus berani menjadi penggerak perubahan sosial di tengah masyarakat. Bekerja tidak hanya dengan hati, tetapi juga dengan strategi,” tegas Dedi.

Melalui sesi diskusi interaktif, para peserta pelatihan saling berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi di lapangan, seperti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang, sulitnya mengubah pola makan anak, hingga keterbatasan akses terhadap sumber air bersih. Narasumber kemudian memberikan solusi praktis dan pendekatan berbasis komunitas yang dapat diterapkan di masing-masing RT.

Pelatihan ini menjadi langkah nyata Desa Talang Belido dalam mendukung Program Nasional Penurunan Stunting yang dicanangkan oleh pemerintah. Desa menyadari bahwa kunci utama keberhasilan program ini terletak pada peran kader yang memiliki dedikasi tinggi, memahami kondisi sosial masyarakat, serta mampu menggerakkan warga untuk hidup lebih sehat dan produktif.

Di akhir kegiatan, Kepala Desa Fadli, S.E. menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan berharap pelatihan ini menjadi awal dari gerakan bersama menuju desa sehat tanpa stunting. Ia menegaskan bahwa pemerintah desa siap memfasilitasi kegiatan lanjutan seperti pemantauan tumbuh kembang anak, penyuluhan gizi keluarga, serta kampanye sanitasi lingkungan.

Dengan semangat kolaborasi dan komitmen kuat dari berbagai pihak, Desa Talang Belido meneguhkan langkah menuju masa depan yang lebih sehat, sejahtera, dan bebas dari stunting. Harapan besar disematkan pada para KPM sebagai motor penggerak perubahan sosial, yang akan terus berperan aktif mendampingi masyarakat menuju tercapainya cita-cita bersama: Talang Belido Zero Stunting.

Ditulis Oleh: Hasrul Amri

Rabu, 08 Oktober 2025

Ketahan Panganan Desa




"Desa Kebon IX, sebuah desa yang berbatasan langsung dengan Kota Jambi,  Peluang ini yang telah menjadi kunci untuk meningkatkan potensi ketahanan pangan dan ekonomi masyarakatnya melalui program penggemukan kambing yang dikelola oleh BUMDesa. Berawal dari keinginan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan petani/peternak kambing yang ada di Desa, BUMDesa Desa Kebon IX memulai program penggemukan kambing dengan memanfaatkan lahan yang tersedia serta pakan alternatip yang ada.

Dengan kerja sama yang solid antara masyarakat, pemerintah desa, dan BUMDesa, program ini mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Kambing-kambing yang digemukkan tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sumber protein yang bergizi bagi masyarakat desa.

Program ini juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat desa, sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka. Selain itu, BUMDesa juga membantu memasarkan produk kambing ke pasar yang lebih luas, sehingga meningkatkan pendapatan desa.

Keberhasilan program penggemukan kambing di Desa Kebon IX menjadi contoh bagi desa-desa lain untuk meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakatnya. Dengan kerja sama dan komitmen yang kuat, desa-desa lain dapat mencapai kesuksesan yang sama dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya."

Terimakasih
Tenaga Pendamping Profesional
Kecamatan Sungai Gelam


 

Selasa, 07 Oktober 2025

Turnamen Antar RT Desa Talang Kerinci: Ajang Mencari Bibit Unggul dan Menumbuhkan Semangat Kebersamaan Pemuda

 

Talang Kerinci, 13 September 2025 — Lapangan sepak bola PSTK Talang Kerinci tampak semarak oleh sorak sorai warga yang antusias menyaksikan pembukaan Turnamen Sepak Bola Antar RT Desa Talang Kerinci. Kegiatan yang digagas oleh Pemerintah Desa bersama masyarakat ini dibuka secara resmi oleh Nyai Rita Susanti, Kepala Desa Talang Kerinci, yang menandai dimulainya rangkaian pertandingan antarwarga yang penuh sportivitas dan semangat kebersamaan.

Dalam sambutannya, Rita Susanti menyampaikan bahwa turnamen ini bukan sekadar ajang pertandingan, melainkan wadah pembinaan generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat, berkarakter, dan berdaya saing.

“Kita mencari bibit potensi kepada pemuda, khususnya di Desa kita, Desa Talang Kerinci, dan menambah kegiatan positif bagi anak-anak serta pemuda desa,” ujar Rita Susanti di sela kegiatan pembukaan.

Lebih lanjut, beliau menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh unsur masyarakat dalam membangun semangat gotong royong dan kebersamaan. Pemerintah desa bersama para Ketua RT, tokoh masyarakat, dan karang taruna turut dilibatkan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Tujuannya, agar turnamen ini tidak hanya menjadi hiburan tahunan, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Turnamen yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola PSTK Talang Kerinci ini diikuti oleh perwakilan dari seluruh RT di Desa Talang Kerinci. Antusiasme peserta terlihat sejak babak penyisihan, di mana masing-masing tim menampilkan permainan terbaik dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas. Tak hanya kaum muda, masyarakat dari berbagai usia pun turut hadir untuk memberikan dukungan dan semangat kepada tim kebanggaan RT mereka.

Kepala Desa berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda rutin tahunan yang memberi manfaat lebih luas. Selain menumbuhkan minat olahraga, kegiatan ini juga diharapkan mampu mencegah perilaku negatif remaja dengan menghadirkan ruang-ruang kegiatan positif dan produktif di lingkungan desa.

“Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin membentuk karakter pemuda yang tangguh, sehat, dan memiliki rasa cinta terhadap desa. Sepak bola hanyalah sarana, tetapi nilai kebersamaan dan sportivitas yang kita tanamkan jauh lebih berharga,” tambahnya.

Selain pertandingan sepak bola, panitia juga menyiapkan berbagai kegiatan pendukung seperti lomba sorak dukungan antar-RT dan kegiatan kuliner UMKM warga. Hal ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat ekonomi lokal dan mempererat hubungan sosial di tengah kemajuan desa.

Turnamen antar RT ini diharapkan menjadi simbol semangat baru bagi Desa Talang Kerinci — bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari bagaimana masyarakatnya bersatu, kreatif, dan berpartisipasi aktif dalam memajukan desa.

Dengan dukungan semua pihak, semangat kebersamaan yang tumbuh di lapangan PSTK ini diharapkan terus mengalir dalam setiap gerak langkah warga Talang Kerinci menuju desa yang lebih maju, sehat, dan berdaya.


Ditulis Oleh: Hasrul Amri

Semangat Bakti Pendamping Desa: Membangun Integritas dan Pengabdian Menuju Indonesia Emas 2045

 (Refleksi Hari Bakti Pendamping Desa, 7 Oktober 2025 – Kecamatan Sungai Gelam)


Pendahuluan: Dari Desa untuk Indonesia

Setiap tanggal 7 Oktober, keluarga besar Tenaga Pendamping Profesional (TPP) di seluruh Indonesia memperingati Hari Bakti Pendamping Desa—sebuah momentum penuh makna bagi mereka yang setiap harinya bekerja di akar rumput, mendampingi desa, mendengar denyut nadi masyarakat, serta memastikan pembangunan benar-benar berpihak kepada rakyat kecil.

Di Kecamatan Sungai Gelam, semangat ini tidak sekadar dirayakan dengan seremoni, tetapi dimaknai sebagai refleksi mendalam atas perjalanan panjang pendampingan desa yang telah menjadi bagian penting dari pembangunan nasional. Pendamping desa adalah wajah kehadiran negara di tingkat lokal. Mereka bukan sekadar pelaksana program, melainkan penjaga integritas pembangunan dan penggerak partisipasi masyarakat.

Tema Hari Bakti tahun ini, “Meningkatkan Integritas Diri dan Pengabdian Pendampingan Desa untuk Suksesnya 12 Rencana Aksi Kemendesa dalam Merealisasikan Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045,” menjadi panggilan moral untuk memperkuat nilai-nilai pengabdian, profesionalitas, dan kejujuran dalam kerja-kerja pemberdayaan.


Pendamping Desa sebagai Garda Terdepan Pembangunan

Perjalanan pendampingan desa tidak pernah mudah. Sejak awal program ini dirintis, pendamping desa dihadapkan pada beragam tantangan: keterbatasan sumber daya, dinamika sosial, serta tuntutan masyarakat yang kian meningkat. Namun di balik kesederhanaan kerja lapangan itu, tersimpan semangat luar biasa: membangun dari pinggiran dengan hati.

Di Kecamatan Sungai Gelam, para pendamping desa berperan penting dalam memfasilitasi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), penguatan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), peningkatan kapasitas pemerintah desa, hingga pemberdayaan masyarakat dalam sektor ekonomi dan sosial. Mereka hadir dalam setiap musyawarah, menjadi jembatan komunikasi antara kebijakan nasional dengan kebutuhan lokal.

Lebih dari itu, pendamping desa juga menjadi “penerjemah kebijakan” — mengubah bahasa program pemerintah menjadi praktik yang dipahami dan dijalankan masyarakat. Misalnya dalam hal pengelolaan dana desa, pengembangan potensi lokal, hingga penguatan kelembagaan adat dan lembaga kemasyarakatan desa.

Integritas menjadi fondasi utama. Karena di tengah kompleksitas pembangunan, pendamping desa harus tetap menjaga objektivitas, kejujuran, dan semangat pengabdian. Mereka bukan hanya pekerja teknis, tetapi pejuang sosial yang memastikan pembangunan tidak kehilangan nurani.


Makna Hari Bakti Pendamping Desa

Hari Bakti Pendamping Desa bukan sekadar tanggal peringatan, melainkan momentum introspeksi bersama. Hari ini mengingatkan bahwa pendampingan desa adalah sebuah amanah kemanusiaan dan kebangsaan.

Setiap langkah yang dilakukan di tingkat desa, sekecil apa pun, sesungguhnya berkontribusi pada cita besar bangsa: menciptakan Indonesia yang maju, berdaya, dan berkeadilan sosial. Dalam konteks Sungai Gelam, peringatan ini menjadi ruang untuk menguatkan sinergi antara pendamping desa, pemerintah kecamatan, dan seluruh pemangku kepentingan desa agar pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Peringatan ini juga mengajak seluruh pendamping desa untuk merefleksikan perjalanan profesinya: sejauh mana pengabdian telah dijalankan dengan tulus, sejauh mana integritas dijaga di tengah godaan pragmatisme, dan sejauh mana inovasi telah dilakukan untuk memajukan desa.


Integritas: Roh dari Pengabdian Pendampingan Desa

Integritas adalah kata kunci yang membedakan pendamping desa dari sekadar pelaksana teknis pembangunan. Ia bukan hanya tentang kejujuran finansial, tetapi juga kesetiaan terhadap nilai-nilai moral dan tanggung jawab sosial.

Di Sungai Gelam, pendamping desa belajar bahwa membangun kepercayaan masyarakat tidak dapat dilakukan dengan janji, tetapi melalui kehadiran yang konsisten dan tindakan nyata. Mereka harus mampu menjadi contoh etika kerja, menunjukkan empati dalam mendengar keluhan warga, dan bersikap adil dalam memfasilitasi kepentingan yang berbeda.

Integritas dalam pendampingan berarti berani bersikap benar meski tidak populer, menolak kepentingan sempit yang bertentangan dengan kepentingan bersama, serta menjaga netralitas dalam setiap proses pembangunan desa. Di sinilah nilai-nilai luhur pengabdian diuji dan dibuktikan.


12 Rencana Aksi Kemendesa: Arah Baru Pembangunan Desa

Tahun 2025 menjadi momentum penting dalam perjalanan pembangunan desa di Indonesia. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) menggulirkan 12 Rencana Aksi sebagai arah kebijakan nasional yang menuntun seluruh perangkat desa, pendamping, dan masyarakat dalam melangkah menuju Indonesia Emas 2045.

Dua belas rencana aksi tersebut meliputi:

  1. Peningkatan Produktivitas Desa – mendorong pengembangan ekonomi lokal dan inovasi desa berbasis potensi unggulan.

  2. Transformasi Ekonomi Desa Hijau – menanamkan nilai-nilai keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam.

  3. Penguatan BUMDes dan BUMDesma – menjadikan badan usaha milik desa sebagai motor ekonomi rakyat.

  4. Digitalisasi Desa – mempercepat pemanfaatan teknologi digital untuk layanan publik dan transparansi data.

  5. Desa Cerdas dan Inovatif – membangun masyarakat desa yang adaptif terhadap perubahan zaman.

  6. Pembangunan Infrastruktur Dasar – memastikan akses air, jalan, listrik, dan sanitasi bagi seluruh warga desa.

  7. Peningkatan Kualitas SDM Desa – melalui pendidikan, pelatihan, dan literasi sosial-ekonomi.

  8. Desa Siaga Sosial dan Tangguh Bencana – memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi krisis.

  9. Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa – membangun sistem yang transparan dan akuntabel.

  10. Perlindungan Sosial dan Kesejahteraan Warga Desa – memastikan tidak ada warga yang tertinggal.

  11. Pengembangan Kawasan Perdesaan – memperkuat konektivitas antar-desa dan pengelolaan wilayah secara terpadu.

  12. Peningkatan Peran Lembaga Adat dan Sosial Desa – menjaga kearifan lokal sebagai bagian dari pembangunan nasional.

Pendamping desa menjadi ujung tombak keberhasilan dari dua belas rencana aksi ini. Mereka bukan sekadar penggerak teknis, tetapi agen yang menerjemahkan kebijakan nasional menjadi tindakan nyata di tingkat lokal. Di Sungai Gelam, semangat ini terlihat dalam upaya memperkuat kolaborasi antara perangkat desa, lembaga adat, kelompok perempuan, pemuda, dan pelaku ekonomi lokal.


Asta Cita dan Visi Indonesia Emas 2045

Semua kerja keras di tingkat desa sejatinya bermuara pada cita besar bangsa: Indonesia Emas 2045 — ketika Indonesia genap berusia seratus tahun merdeka. Pemerintah menegaskan delapan arah utama pembangunan atau Asta Cita, yaitu:

  1. Masyarakat yang berakhlak mulia, berbudaya, dan beradab;

  2. Masyarakat yang sejahtera, produktif, dan berdaya saing;

  3. Ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan;

  4. Pembangunan merata dari desa ke kota;

  5. Tata kelola pemerintahan yang bersih dan efektif;

  6. Ketahanan sosial dan lingkungan yang kuat;

  7. Keamanan dan kedaulatan nasional yang terjaga;

  8. Peran aktif Indonesia di kancah global.

Desa menjadi fondasi dari seluruh cita tersebut. Tidak ada Indonesia Emas tanpa desa yang kuat, mandiri, dan berdaya. Maka, pendamping desa memegang peran strategis dalam menyulam benang merah antara cita nasional dan realitas lokal.

Mereka menjadi juru arah yang menuntun desa menuju transformasi — dari ketergantungan menuju kemandirian, dari tradisional menuju digital, dari konsumtif menuju produktif. Dengan demikian, kerja pendamping desa adalah bagian dari mozaik besar pembangunan bangsa.


Refleksi: Pengabdian yang Tidak Mengenal Batas

Menjadi pendamping desa berarti siap berjalan di jalan panjang tanpa banyak sorotan. Tidak selalu disorot kamera, tidak selalu diberi tepuk tangan. Namun di setiap langkahnya, ada nilai keikhlasan dan tanggung jawab moral yang tinggi.

Di Sungai Gelam, pendamping desa sering kali bekerja di tengah keterbatasan fasilitas dan medan yang tidak mudah. Namun semangat pengabdian membuat mereka tetap bertahan. Mereka memahami bahwa perubahan besar berawal dari hal kecil — dari pertemuan warga, dari musyawarah dusun, dari gotong royong membersihkan lingkungan, dari ide sederhana yang kemudian tumbuh menjadi gerakan sosial.

Inilah makna sejati Hari Bakti Pendamping Desa: bekerja dengan hati, berjuang tanpa pamrih, dan terus menyalakan cahaya harapan di tengah masyarakat.


Kolaborasi untuk Masa Depan Desa

Pembangunan desa tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pendamping, dan masyarakat. Di Sungai Gelam, pola kolaborasi ini terus dikuatkan melalui forum-forum musyawarah, pelatihan, serta pengembangan kapasitas kelembagaan desa.

Pendamping desa berperan sebagai fasilitator, sementara pemerintah kecamatan dan kabupaten menjadi pendukung kebijakan. Masyarakat menjadi pelaku utama, dengan semangat gotong royong sebagai jiwa dari pembangunan.

Kolaborasi ini menjadi kunci sukses implementasi 12 Rencana Aksi Kemendesa dan pilar menuju Asta Cita 2045. Sebab tanpa kerja sama lintas elemen, pembangunan akan kehilangan arah dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas desa.


Penutup: Dari Sungai Gelam untuk Indonesia Emas

Momentum Hari Bakti Pendamping Desa 2025 di Kecamatan Sungai Gelam menjadi refleksi kolektif bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 dimulai dari langkah-langkah kecil di desa.

Pendamping desa adalah mata air pengabdian yang terus mengalir — menumbuhkan harapan, meneguhkan integritas, dan menyalakan semangat perubahan. Mereka tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.

Mari jadikan peringatan ini sebagai energi baru untuk terus mengabdi dengan hati. Karena pada akhirnya, kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang dikucurkan, tetapi seberapa tulus para pelaksana pembangunan bekerja demi rakyatnya.

Selamat Hari Bakti Pendamping Desa 2025.
Dari Sungai Gelam, semangat pengabdian itu terus menyala — menuju Desa Berdaya, Indonesia Jaya, dan Indonesia Emas 2045.



💚 Pendamping Desa Tangguh, Desa Maju, Indonesia Hebat!

Hasrul Amri

“Menjaga Adat, Merajut Harmoni: Pelatihan Adat Melayu Jambi di Desa Tangkit”

 Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Desa Tangkit berdiri teguh menjaga jati dirinya. Di desa yang kaya akan keberagaman suku dan budaya ini, semangat untuk melestarikan adat Melayu Jambi terus dijaga dan diwariskan. Salah satu wujud nyatanya adalah penyelenggaraan Pelatihan Adat bagi Kepala Desa, Perangkat Desa, BPD, Pengurus Lembaga Adat, dan Pegawai Syara’.

Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi sebuah ikhtiar bersama untuk menguatkan nilai-nilai adat sebagai perekat sosial dan pedoman hidup bermasyarakat.
Para peserta diajak memahami kembali makna adat yang berakar pada falsafah Melayu: adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah.
Melalui dialog, praktik, dan pembelajaran langsung, mereka menggali kembali tata cara adat, peran lembaga adat, hingga nilai-nilai etika yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat di Jambi.

Pelatihan ini juga menjadi ruang silaturahmi antar-suku di Desa Tangkit—Melayu, Jawa, Minang, Batak, Bugis, dan lainnya—untuk saling mengenal dan menghargai.
Dari sinilah tumbuh kesadaran bersama, bahwa adat bukanlah sekat, tetapi jembatan yang menyatukan berbagai latar belakang dalam satu semangat: membangun desa yang rukun, berbudaya, dan bermartabat.



Dengan semangat gotong royong dan rasa cinta terhadap tanah kelahiran, pelatihan adat ini diharapkan melahirkan generasi pemimpin desa yang paham akar budayanya, bijak dalam mengambil keputusan, serta mampu menuntun masyarakat dengan nilai-nilai luhur Melayu Jambi.

Karena melestarikan adat bukan sekadar menjaga tradisi masa lalu, tetapi juga menanam nilai untuk masa depan—agar Desa Tangkit terus tumbuh sebagai desa beradat, beriman, dan berkepribadian luhur di tengah keberagaman yang indah.


Ditulis Oleh : Hasrul Amri


Sinergi Mengabdi Membangun Desa

 




Di balik setiap keberhasilan pembangunan di desa, ada sosok-sosok yang bekerja dengan hati—mereka adalah Tenaga Pendamping Profesional Kecamatan Sungai Gelam.
Dengan semangat pengabdian yang tak pernah padam, mereka hadir bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra sejati bagi pemerintah desa dan masyarakat.

Hari demi hari, para pendamping profesional ini turun langsung ke lapangan—menyusuri jalan desa, mendengarkan suara warga, membantu menyusun perencanaan, hingga memastikan program desa berjalan tepat sasaran.
Mereka bukan sekadar fasilitator, tetapi juga inspirator yang menyalakan semangat gotong royong dan kemandirian masyarakat.

Melalui pendampingan yang sabar dan berkelanjutan, mereka membantu desa menemukan kekuatannya sendiri: dari perencanaan pembangunan, peningkatan kapasitas aparatur, pengelolaan keuangan desa, hingga pemberdayaan masyarakat.
Setiap langkah kecil yang mereka lakukan menjadi bagian dari perubahan besar—membangun Sungai Gelam yang lebih berdaya, mandiri, dan sejahtera.

Kini, di tengah berbagai tantangan pembangunan, semangat Tenaga Pendamping Profesional Kecamatan Sungai Gelam tetap menyala.
Mereka adalah garda terdepan pemberdayaan desa, pelita yang terus menerangi jalan menuju kemajuan.
Dengan tekad, dedikasi, dan kerja nyata, mereka membuktikan bahwa membangun desa berarti membangun Indonesia dari akar yang paling dalam.

Ditulis Oleh : Hasrul Amri

Pembukaan Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) Tangkit Emas Desa Tangkit Standar 2 (S2)

  Jum'at, 17 Oktober 2025 Semangat untuk tetap berdaya dan bermanfaat tidak mengenal batas usia. Hal ini tampak jelas dalam kegiatan Pem...

Terpopuler